Otak punya peranan besar pada setiap gerakan, doa, dan kebiasaan yang kita lakukan. Buku ini membongkar bagaimana ibadah dalam Islam bisa selaras dengan prinsip-prinsip neurosains dan psikologi modern. Kamu bakal menemukan penjelasan ilmiah yang ringan tentang kenapa zikir menenangkan, kenapa wudu menyegarkan pikiran, dan kenapa ibadah bisa jadi “reset” terbaik untuk kesehatan mentalmu. Keunggulan: • Disusun oleh content creator dan praktisi kesehatan mental, psikologi positif, dan psikometri industri dan organisasi. • Memberikan penjelasan secara ilmiah—neurosains dan psikologi modern—tentang ibadah wajib dan sunah dalam Islam seperti berwudu, puasa, Salat Tahajud, Salah Duha, hingga berziarah kubur. • Mengajak pembaca untuk membedah luka batin yang pernah dialami, memaparkannya, dan memberikan solusi ritual ibadah apa yang bisa menyembuhkannya secara perlahan. • Buku dilengkapi dengan journaling penyembuhan jiwa dan ibadah tracker selama 40 hari. Profil penulis: Dedi Setiawan, M.Si adalah peneliti dan praktisi kesehatan mental yang berfokus pada mental health, Psikologi Positif, serta psikometri industri dan organisasi. Ia meraih gelar Magister Psikologi Industri & Organisasi dari Universitas Persada Indonesia. Sejak 2016, Dedi telah mendampingi lebih dari 1 juta orang melalui edukasi mental health, terapi psikologis terapan, dan pelatihan karakter di berbagai platform digital seperti: TikTok, Instagram, dan YouTube. Cakupan bahasannya, meliputi: emotional regulation, inner child healing, trauma recovery, relationship growth, mindful performance, productivity mapping, hingga leadership transformation. Ia memiliki sertifikasi profesional Certified Hypnotherapist (CHt), Micro Expression Expert, dan Graphology Analyst dari IBH (Indonesian Board of Hypnotherapy). Bagi Dedi, kesehatan mental bukan sekadar bebas stres, melainkan kemampuan untuk terus tumbuh di tengah tekanan hidup. Dengan pendekatan yang memadukan neurosains, psikologi positif, dan spiritual well-being, ia menuntun setiap orang untuk tidak sekadar pulih, tetapi kembali kuat secara logika, emosi, dan spiritual. Ia bisa disapa melalui akun media sosial: @kelaskehidupan.